Mungkin nama Dolly sudah tidak asing bagi masyarakat Surabaya,
bahkan masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak, nama Dolly sudah mendunia
dikarenakan Dolly disebut-sebut merupakan area lokalisasi pelacuran yang
terbesar di Asia Tenggara. Namun belum ada catatan perbandingan resmi dengan
kompleks lokalisasi di negara lain. Tapi jika hal itu memang benar berarti
Dolly telah mengalahkan area lokalisasi di Thailand dan Singapura. Padahal
Thailand memiliki banyak lokalisasi yang
kerap di datangi turis, sehingga lokalisasi tersebut menyediakan PSK bagi
penyuka sesama jenis.
Namun sebelum membahas lebih jauh mengenai Dolly, alangkah baiknya
jika kita mengetahui lebih dulu apa itu Dolly. Dolly atau yang sering disebut Gang Dolly merupakan nama sebuah Kawasan
lokalisasi pelacuran yang terletak di daerah Jarak, Pasar Kembang, Kota
Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Di Kawasan lokalisasi ini, wanita penghibur
“dipajang” didalam ruangan berdinding kaca yang mirip dengan etalase. Salah
satu wismanya yang paling sering dikunjungi oleh pelanggan bernama Barbara.
Lokalisasi Dolly ini hampir menyelimuti
seluruh jalan kawasan itu. Bahkan Dolly lebih dikenal ketimbang kota Surabaya
itu sendiri. Pernah terjadi kontroversi untuk menyebutkan Gang Dolly sebagai
salah satu daerah tujuan wisata Surabaya bagi wisatawan mancanegara. Dolly
disebut-sebut sebagai lokalisasi terbesar di Asia Tenggara, karena sedikitnya
9.000 lebih pelacur tersedia di kawasan tersebut. Pria hidung belang kalangan
atas pun tidak sulit ditemukan di kawasan Dolly. Bahkan banyak Turis bule yang
sering mangkal di Bali kerap mengunjungi Surabaya hanya untuk ‘menjajal’
wanita-wanita yang dijajakan di Dolly.
Sejarah Dolly
Lalu bagaimana sejarah Dolly ini terbentuk?
Dan siapa orang yang mengelola Dolly untuk pertama kalinya? Sejarah mencatat,
kawasan Dolly rupanya dahulu merupakan tempat pemakaman warga Tionghoa pada
zaman penjajahan Belanda. Namun pemakaman ini disulap oleh seorang Noni Belanda
bernama Dolly van de mart sebagai tempat prostitusi khusus bagi para tentara
negeri kincir angin tersebut. Bahkan keturunan tante Dolly juga disebut-sebut
masih ada hingga kini, tetapi sudah tidak meneruskan bisnis prostitusi ini.
Sebagai pencetus komplek lokalisasi di
Jalan Jarak, Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya ini maka
perempuan dengan sebutan tante Dolly itu kemudian dikenal sebagai tokoh
melegenda tentang asal muasal terbentuknya gang lokalisasi prostitusi tersebut.
Dalam beberapa kisah tutur masyarakat
Surabaya, awal pendiriannya, tante Dolly hanya menyediakan beberapa gadis untuk
menjadi pekerja seks komersial (PSK). Melayani dan memuaskan syahwat para tentara
Belanda. Seiring berjalannya waktu, ternyata pelayanan para gadis asuhan tante
Dolly tersebut mampu menarik perhatian para tentara untuk datang kembali.
Dalam perkembangannya, gang Dolly semakin
dikenal masyarakat luas. Tidak hanya prajurit Belanda saja yang berkunjung,
namun warga pribumi dan saudagar yang berdagang di Surabaya juga ikut menikmati
layanan PSK. Sehingga kondisi tersebut berpengaruh kepada kuantitas pengunjung
dan jumlah PSK yang semakin bertambah.
Dolly juga menjelma menjadi kekuatan dan
sandaran hidup bagi penduduk disana. Terdapat lebih dari 800 wisma, kafe
dangdut, dan panti pijat plus-plus yang berbaris rapi. Setidaknya setiap malam
sekitar 9.000 lebih penjaja cinta, pelacur dibawah umur, germo, dan ahli pijat
siap menawarkan layanan kenikmatan kepada para pengunjung.
Tidak hanya itu, Dolly bukan hanya menjadi
tumpuan hidup bagi para pekerja seks tetapi juga ribuan pedagang kaki lima,
penjaja rokok, tukang parkir, tukang ojek, tukang becak. Semua saling berkait
menjalin sebuah simbiosis yang saling menguntungkan.
Sejarah Lain Dolly
Kisah lain tentang Dolly juga pernah
ditulis Tjahjo Purnomo dan Ashadi Siregar dalam buku berjudul “Dolly: Membedah
Dunia Pelacuran Surabaya, Kasus Kompleks Pelacuran Dolly” yang diterbitkan oleh
Grafiti Pers, April 1982. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa dulunya kawasan
Dolly merupakan makam Tionghoa, meliputi wilayah Girilaya, berbatasan dengan
makam Islam di Putat Gede.
Baru sekitar tahun 1966 daerah itu diserbu
pendatang dengan menghancurkan bangunan-bangunan makam. Makam itu tertutup bagi
jenazah baru, dan kerangka lama harus dipindah oleh ahli warisnya. Hal ini
mengundang orang untuk mendapatkan tanah bekas makam itu, baik dengan cara
membongkar bangunan makam, menggali kerangka jenazah, atau cukup meratakannya
saja.
Setahun kemudian, tahun 1967, muncul seorang
pelacur wanita bernama Dolly Khavit di kawasan makam Tionghoa tersebut. Dia
kemudian menikah dengan pelaut Belanda, pendiri rumah pelacuran pertama di
jalan yang sekarang bernama Kupang Gunung Timur I. Wisma miliknya antara lain
bernama T, Sul, NM, dan MR. Tiga diantara empat wisma itu disewakan pada orang
lain. Demikianlah asal muasal nama Lokalisasi Dolly.
Dolly semakin berkembang para era tahun
1968 dan 1969. Wisma-wisma yang didirikan disana semakin banyak. Adapun
persebarannya dimulai dari sisi jalan sebelah barat, lalu meluas ke timur
hingga mencapai sebagian Jalan Jarak.
Fenomena Gang Dolly
Sebenarnya yang disebut-sebut Gang Dolly
bukan gang seperti namanya, tapi sebuah jalan raya Putat Jaya. Secara
Administratif masuk wilayah kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Kotamadya
Surabaya, ‘Kota Pahlawan’ yang juga menjadi Ibu Kota Provinsi Jawa Timur.
Letaknya yang strategis di tengah-tengah Kota Surabaya, menjadikan lokalisasi
yang satu ini dianggap sebagai “duri dalam daging” oleh banyak kalangan, ada
juga yang mengatakan bahwa Dolly “bukanlah duri dalam daging”. Sehingga pro dan
kontra akan keberadaan Gang Dolly seperti tidak terpisahkan dari perjalanan
sejarah Kota Surabaya sampai saat ini meskipun sudah di tutup oleh Walikota
Surabaya. Itulah fenomena Gang Dolly.
Selain itu, semasa jayanya, Gang Dolly mempunyai
beberapa keunikan:
1. Pada siang hari, ketika kita melewati Jalan
Putat Jaya yang dikenal dengan Gang Dolly ini, kita seperti melewati jalan
biasanya layaknya jalan-jalan lain di Kota Surabaya. Pada siang hari aktifitas
warga sekitar tampak normal seperti warga warga pada umumnya. Tidak ada
perbedaan yang mencolok (terkamuflase). Mengapa demikian? Hal itu dapat terjadi
karena lokalisasi Gang Dolly ini memang menyatu dan berbaur dengan kehidupan
masyarakat. Suasan berbeda akan terlihat ketika sore atau malam hari.
2. Wanita-wanita pekerja seks di Gang Dolly
biasanya ditempatkan atau dipajang dalam sebuah “akuarium”. Sebutan untuk
ruangan berkaca terang yang bisa dilihat oleh siapapun yang melewati gang ini.
Walaupun tetap ada sebagian yang berdiri dipinggir jalan. Kalau malam akan
relatif lebih mudah untuk membedakan mana wanita “pekerja” dan mana yang bukan.
Biasanya wanita-wanita itu dapat dibedakan dari gaya dandanan dan pakaian yang
dikenakan. Ada juga yang mengatakan bahwa pakaian dan dandanan yang di pakai
menentukkan kelas atau levelnya.
3. Gang Dolly bisa dikatakan lengkap. Karena
semua hiburan malam untuk laki-laki hidung belang semua tersedia. Mungkin tidak
kalah lengkap dengan lokalisasi Pat Pong milik negaraThailand yang menyediakan
pelayanan bagi penyuka sesama jenis. Ada catatan yang menuliskan bahwa pekerja
wanita di Gang Dolly masih di bawah umur.
4. Tidak hanya masalah sosial saja, Gang Dolly
juga merupakan komoditas politik khususnya di level internal Kota Surabaya. Pemkot
Surabaya pernah mencatat penghasilan lokalisasi Dolly ini mencapai angka Rp. 34
Miliar.
5. Panjang Gang Dolly hanya mencapai 200 meter
saja. Namun siapa sangka, ternyata gang 200 meter tersebut dapat menyimpan
puluhan mucikari dan ribuan pelacur di
dalamnya yang berusaha memuaskan hasrat para pelanggannya.
6. Gang Dolly juga dianggap sebagai sarang
penyakit HIV/AIDS.
7. Karena banyaknya persaingan yang sangat
ketat, mengakibatkan para pemilik wisma di Gang Dolly lebih memilih gulung
tikar.
8. Tarif untuk para pekerja seks
bermacam-macam. Mulai Rp.80 ribu untuk PSK yang berumur 26-30 tahun. Hingga
Rp.150 untuk PSK yang berumur dibawah 26 tahun.
Kehidupan Masyarakat Dolly
Sebagian
orang mungkin memandang bahwa kemiskinan adalah masalah sepele. Intinya,
seseorang yang miskin karena tidak memiliki uang. Tetapi lihatlah betapa besar
dampak yang muncul dari permasalahan kemiskinan. Macam-macam tindakan brutal
menghiasi layar televisi, mulai dari pencurian, penjarahan, perampokan, sampai
anak gelandangan. Tidak berhenti disitu saja, bahkan mereka ada yang rela
menjual harga dirinya demi sesuap nasi dan pemenuhan tanggungjawab terhadap
keluarganya.
Seperti yang sedang dibicarakan pada
artikel ini, lokalisasi di Gang Dolly menjadi tempat mengais rizki warga Dolly,
juga merupakan aktifitas warga yang terpaksa mereka lakukan karena tidak ada
jalan lain untuk mendapatkan uang, kecuali dengan cara menjual harga diri
mereka sendiri. Bukan hanya menjadi ladang penghasilan bagi masyarakat sekitar,
Dolly juga menjadi lading penghasilan bagi masyarakat di luar Kota Surabaya.
Hal ini dibuktikan dengan banyaknya “Pekerja” wanita yang berasal dari
Semarang, Kudus, Pati, Purwodadi, Nganjuk, dan Kalimantan. Inilah yang dampak
dari kemiskinan yang tidak mendapatkan perhatian dan penanganan langsung dari
pemerintah.
Para pelacur yang bekerja di Gang Dolly
hanya memikirkan penghasilan yang didapatkan dari pekerjaannya tersebut. Tanpa
memikirkan bagaimana proses dan akibat dari perbuatan yang telah dilakukan.
Akibat terhadap anak-anak dibawah umur yang seharusnya memiliki masa depan
cerah, tetapi dengan terpaksa harus menenggelamkan masa depannya karena harus
melayani para lelaki hidung belang. Generasi anak bangsa terkena getahnya.
Tidak sedikit anak SD yang merasakan surga dunia dibalik kerlap kerlip lampu
Gang Dolly. Hal inilah yang pada akhirnya menggerakan Pemkot Surabaya untuk
menutup lokalisasi ini.
Seperti air dalam gelas, jika pecah, air
itu akan menyembur ke segala arah. Begitulah kekhawatiran masyarakat setempat
jika pemerintah tidak siap dengan dampak penutupan Dolly. Bukan hanya itu,
mereka yang telah menggantungkan hidupnya pada lokalisasi ini akan berkeliaran
di jalan, tanpa pengawasan, tanpa pembinaan. Itulah mengapa dalam setiap
tindakan harus selalu ada solusi.
Ternyata penutupan Gang Dolly bukan hanya tentang
persoalan moralitas, tetapi juga menyangkut keberlangsungan hidup masyarakat
sekitarnya.
Penutupan Dolly
Rabu, 18 Juni 2014 adalah malam terakhir
untuk lokalisasi Gang Dolly. Etalase kaca yang biasanya memajang para pekerja
seks berpakaian minim, mejadi kosong dan gelap. Para mucikari sudah tidak lagi
sibuk bertransaksi dengan para tamu sambil memencet kalkulator. Sementara
warga, menutup rumah dan toko, karena khawatir kericuhan akan terjadi. Suasana
malam itu menjadi mencekam.
Sudah tak ada lagi langkah mundur, Gang
Dolly, lokalisasi prostitusi terbesar di Asia Tenggara dipastikan ditutup oleh
Pemerintah Kota Surabaya pada 18 Juni 2014. Penutupan ini bukan perkara
sederhana, karena selama puluhan tahun lokalisasi tersebut berdiri, tidak ada
yang mampu menutupnya. Kini, setelah Dolly menjadi lahan penghidupan banyak
orang, besar kemungkinan langkah penutupan yang digagas Walikota Surabaya Tri
Rismaharini akan mendapat perlawanan warga penduduk kawasan lokalisasi
tersebut.
Karena itu, penutupan Dolly juga mendapat
perhatian khusus dari aparat kepolisian dan TNI. Sebanyak 1.000 personel
gabungan TNI-Polri disiagakan di Islamic Center, yaitu tempat dilangsungkannya
deklarasi penutupan lokalisasi tersebut. Tak hanya TNI-Polri, penutupan Dolly
saat itu juga tidak luput dari perhatian Komisi Nasional Hak Asasi Menurut (Komnas HAM). Ketua Komnas
HAM Hafid Abbas mengatakan, pihaknya akan memantau langsung penutupan Dolly
dengan menerjunkan tim khusus. “Ya jelas, Komnas HAM pasti melakukan pemantauan
di lapangan. Besok ada tim berjumlah 4 orang ke Surabaya” Ucap Hafid Abbas saat
ditemui di Bandung, Jawa Barat.
Dia mengungkapkan telah meminta Pemkot Surabaya
untuk memperhatikan masyarakat yang selama ini menggantungkan hidupnya dari
bisnis ini, contohnya dengan memberikan kompensasi sebagai perhatian dari aspek
HAM. Hafid Abbas mengatakan “Mereka (penghuni Dolly) harus diperhatikan,
terbebas deskriminasi. Mereka berhak dilindungi, jadi harus diperlakukan
seperti warga pada umumnya. Intinya aparat terkait harus memikul tanggung jawab
bersama-sama setelah Dolly ditutup”.
Langkah seperti itu memang sudah seharusnya
diantisipasi. Kementrian Sosial, misalnya, sudah berjanji memberikan bantuan
dana sebesar Rp. 5.050.000,- untuk eks pekerja seks komersial (PSK). “Bantuan
tersebut diberikan dalam bentuk tabungan, dan akan diberikan saat mereka
masing-masing,” ujar Direktur Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial Kemensos Sonny
Manalu di Surabaya.
Pada penutupan Dolly, bantuan akan
diberikan secara seremonial kepada eks
PSK. Sebanyak 1.449 eks PSK kemudian akan dipulangkan ke daerah asalnya.
Bantuan yang diberikan berupa dana Usaha Ekonomi Kreatif sebesar Rp.3 Juta,
Rp.1.8 Juta untuk jaminan hidup dengan rincian Rp.20 Ribu per hari selama 90
hari dan Rp.250 Ribu untuk transportasi mereka pulang ke kampung.
Sedangkan bagi warga sekitar Dolly yang
selama ini mendapatkan penghasilan dari berbagai kegiatan di Kawasan tersebut akan
diberdayakan oleh Pemkot Surabaya, termasuk merefungsi Dolly menjadi lokasi
usaha ekonomi produktif. Sementara mucikari dan germo akan mendapat bantuan
dari Pemprov Jatim.
Kehidupan
Masyarakat Dolly Pasca Ditutup
Setelah lebih dari setahun Gang Dolly ditutup secara
resmi, Gang Dolly memang tidak benar-benar mati, meskipun samar-samar aktifitas
prostitusi konon masih ada dengan cara yang lebih rapi dan tersamar,
terselubung. Indikasi ini, mungkin ada benarnya. Bila merujuk pada laporan dari beberapa
aktifis LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang aktif melakukan pendampingan bagi masyarakat kawasan Gang Dolly dan Jarak,
yang dilansir oleh beberapa media online, sebagian besar para “pekerja” yang
mau untuk berpindah haluan adalah “pekerja” yang sudah berumur, sedangkan yang
usianya masih muda, rata-rata justru enggan untuk berpindah haluan.
Menjawab kabar samar-samar ini, Pemkot
Surabaya tidak tinggal diam. Dengan menggandeng berbagai kalangan seperti
Pemerhati Sosial, LSM, Organisasi Kepemudaan, Organisasi Keagamaan, Organisasi
Profesinal, Komunitas Seni dan Budaya, dan Praktisi-praktisi Profesional dari
berbagai bidang. Terus berusaha memberikan solusi jangka Panjang bagi
eksistensi kehidupan masyarakat Ex-Dolly (sebutan bagi masyarakat Gang Dolly
pasca lokalisasi ditutup). Ini yang menarik dan mungkin bisa dijadikan
referensi solusi oleh daerah lain yang berencana melakukan tindakan yang sama
seperti yang dilakukan Pemkot Surabaya, yaitu menutup lokalisasi. Karena
seperti yang kita ketahui, bahwa Indonesia memiliki banyak lokalisasi yang
terdapat di kota-kota selain Surabaya.
Langkah riil Pemkot Surabaya untuk merubah
wajah Gang Dolly antara lain dengan membeli beberapa (sekitar 13) aset property
yang dulunya merupakan wisma untuk memajang sekaligus tempat eksekusi para
“pekerja” milik mami-mami mucikari Gang Dolly. Property yang sudah dibeli,
lantas di rombak untuk dijadikan sebagai wadah bagi pemberdayaan masyarakat
Gang Dolly. Wisma “New Barbara”, yang dulu dikenal sebagai wisma paling ramai
di Gang Dolly sekarang sudah berganti wajah. Sejak dibeli Pemkot Surabaya
setahun silam, bangunan 6 lantai yang dirubah total ini secara perlahan telah
beralih fungsi.
Lantai 1 yang dulunya menjadi akuarium atau
ruang pajang para “pekerja”, sekarang sudah menjadi tempat kursus komputer,
sedangkan ruang diatasnya yang sedang dalam tahap finishing diproyeksikan
untuk tempat pelatihan usaha produktif (UKM) bagi masyarakat. Sementara itu,
bangunan lainnya yang juga dalam tahap renovasi ada beberapa yang telah
dijadikan untuk tepat produksi dan ruang pajang bagi produk kerajinan khas Gang
Dolly seperti Batik Jarak Arum, yaitu kerajinan batik khas Gang Dolly yang
motifnya khas berupa proses metamorphosis ulat sampai menjadi
kupu-kupu yang cantik dan dikombinasikan dengan elemen-elemen daun jarak,
sesuai dengan nama daerah Gang Dolly berada, yaitu Jarak. Konon ide dan
inspirasi terciptanya motif ini tidak lepas dari perjalanan metamorphosis
masyarakat Gang Dolly sendiri, berubah dari negatif menjadi positif. Pemkot
Surabaya juga membangun beberapa fasilitas olahraga di Gang Dolly, seperti
lapangan futsal, bulutangkis, basket dan volley ball.
Gambaran dan detail proyeksi masa depan
Gang Dolly secara lebih jelas, diprakasai oleh sekelompok anak muda Surabaya
yang menamakan dengan Gerakan Melukis Harapan (GMH), yaitu sebuah organisasi
independent yang fokus menggarap pemberdayaan semua elemen dalam masyarakat
Gang Dolly dari anak-anak sampai orang tua melalui berbagai program
pendampingan dan pelatihan keterampilan usaha produktif. GMH bertekad akan
merubah image wajah Gang Dolly dari daerah wisata malam khusus dewasa
(berkonotasi negatif) menjadi daerah
wisata tematik untuk semua kalangan yang
mempunyai ciri khas (berkonotasi positif), khususnya wisata
edukasi/sosial/sejarah/ dan kuliner.
Studi Lapangan
Pada hari Sabtu, 13 April 2019, saya dan
mahasiswa KPI (Komunikasi Penyiaran Islam) UIN Sunan Ampel Surabaya melakukan
studi lapangan di Gang Dolly, tepatnya di Masjid At-Taubah Kupang Gunung Timur
VII/41 Surabaya. Masjid at-Taubah merupakan masjid yang penuh dengan perjuangan
dalam proses penutupan lokalisasi Gang Dolly. Pada tahun 1987 masjid ini
berdiri, namun belum menjadi masjid, melainkan sebuah mushola yang bernama
al-Huda. Khutbah pertama diserukan melalu masjid ini pada tanggal 17 Februari 1989.
Masjid ini dulunya hanya memiliki 1 lantai, namun sekarang sudah dibangun dan
memiliki 3 lantai.
Takmir masjid ini adalah Bapak Petruk.
Disebut demikian karena beliau memiliki hidung yang sangat mancung seperti
petruk. Selain menjadi takmir masjid, Bapak petruk juga melakukan dakwah.
Beliau berdakwah melalui jalan non medis, maksudnya ketika ada orang yang
kesurupan, sawanen, beliau lah yang mengobatinya. Sehingga dakwah beliau
dilakukan dari kamar wisma satu ke kamar wisma lainnya. Beliau sudah memasuki
53 wisma. Hampir semua wisma sudah pernah beliau masuki guna mengobati
orang-orang yang membutuhkan pengobatan non medis. Beliau juga mengatakan
bahwa, sudah melalukan dakwah selama 24 tahun, hingga lokalisasi Gang Dolly
akhirnya di tutup. Beliau mengatakan bahwa keberhasilan suatu dakwah tidak lah
terjadi secara instan. Semua itu melalui berbagai macam proses.
Bapak Petruk alias bapak ‘Adi bin Wahab
mengatakan bahwa kunci dibalik sebuah perjuangan adalah keikhlasan. Seperti
yang beliau lakukan. Beliau berdakwah selama 24 tahun secara istiqamah dan
ikhlas hingga akhirnya lokalisasi Gang Dolly pun dapat di tutup secara Resmi
pada 19 Juni 2014.
Dr. H. A. Sunarto AS, MEI
Narasumber yang kedua yaitu Bapak Sunarto
yang merupakan murid pertama dari Prof. Moh. Ali Aziz. Bapak sunato memulai
mengajar pada tahun 1983. Beliau mengatakan bahwa dakwah seharusnya tidak
menggunakan pedang atau yang dimaksudkan di sini adalah kekerasan. Dakwah
seharusnya dilakukan secara lembut tanpa ada paksaan, dan harus menjalani
proses yang Panjang pula, bahkan hingga 36 tahun.
Dakwah harusnya dilakukan dengan ajakan yang lembut,
bukan memaksa bahkan dengan menggunakan kekerasan seperti yang dilakukan oleh
teroris-teroris yang tidak bertanggung jawab.
Beliau juga memiliki harapan untuk mengubah
lokalisasi menjadi kota santri. Beliau lahir di tengah-tengah kemungkaran,
yaitu lokalisasi pelacuran. Beliau mulai berdakwah pada tahun 1980-an. Mulai
dari berdakwah secara individu lalu pada 2002 berdakwah dengan Lembaga, yaitu
FORKEMAS (Forum Komunikasi Elemen Masyarakat Surabaya).
Metode dakwah yang beliau gunakan yaitu
Persuasif, Integratif, dan Solutif. Pertama yaitu Persuasif, berarti
mengajak, seperti yang sudah dijelaskan bahwak dakwah tidak boleh memaksa
bahkan menggunakan kekerasan. Berdakwah harus dilakukan dengan lembut sehingga
timbul kesadaran dari orang itu sendiri untuk merubah sikapnya. Kedua
yaitu Integratif yang berarti menyeluruh. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal
dalam berdakwah kita harus melakukannya secara menyeluruh dan total. Kita harus
merubah seseorang dari akarnya, yaitu mindset atau cara berpikirnya. Karena
jika cara berpikir sudah terbenahi maka akan lebih mudah untuk membenahi
cabang2nya. Ketiga yaitu Solutif yang berarti memberikan solusi. Seperti
yang dilakukan oleh pemerintah Kota Surabaya untuk menutup Dolly yang telah
menjadi lapang penghasilan bagi masyarakat sekitar. Maka pemerintah Kota
Surabaya juga harus menyediakan solusi bagi masyarakat yang penghasilannya
hilang karena di tutupnya Dolly. Seperti menyediakan LSM salah satunya. Karena
pada hakikatnya setiap ada tindakan pasti ada pertanggung jawabannya.
Berdakwah harusnya membina bukan menghina,
berdakwah juga harusnya merangkul bukan mendengkul
H. Sunarto Sholahudin
Bapak sunarto ini merupakan owner dari PT. Berkah Aneka Laut, serta merupakan bendahara Masjid Nurul Fatah yang berada di Jln. Perak 319, Surabaya. Bapak sunarto lahir di sebuah desa kecil Menganti Gresik Desa Lampah. Bapak sunarto tidak lahir dari keluarga yang kaya. Maka dari itu, beliau bertekad hijrah ke Surabaya dan sekarang beliau menjadi pengusaha yang sukses, sama seperti yang beliau impikan. Beliau mengatakan dalam setiap langkahnya untuk menuju kesuksesan, selalu ada bantuan dari Allah melalui jalan yang tidak terduga.
Beliau mengatakan bahwa jalan menuju
kesuksesan adalah kejujuran. Sama seperti 4 prinsip bisnis yang dilakukan oleh
Rasulullah SAW, yaitu: Shidiq, Fathonah, Tablig, Amanah. Beliau juga menjelaskan
bagaimana cara menghadapi kebimbangan ketika akan melangkah. Yaitu dengan
percaya, meyakini bahwa semua adalah takdir dari Allah. Kunci kesuksesan juga
ada pada doa dan ridho orang tua.
Rejeki yang di berikan Allah melalui PT.
Berkah Aneka Laut juga didonasikan untuk usaha penutupan lokalisasi Gang Dolly
ini, juga untuk pondok pesantren, masjid, anak yatim, dan kaum dhuafa’.
Ternyata dengan donasi itulah PT. Berkah Aneka Laut (BAL) semakin besar dan
berkembang. Kini PT. BAL sudah memiliki 50 kapal penangkap ikan dan sedang
mendirikan Cold Storage di Probolinggo.
Pesan beliau untuk mahasiswa-mahasiswi
yaitu: Pertama, selalu rajin belajar, berdoa, sampai meraih mimpi
setinggi-tingginya. Kedua, selalu taati orang tua dan guru-guru dan
yakin bahwa Allah akan meridhoi masa depan. Ketiga, jika sudah lulus,
jangan menunggu pekerjaan, tetapi “ciptakan pekerjaan”. Inilah dakwah yang
sesungguhnya, yaitu mengentas orang lain dari keterpurukan.
KH. Drs. Khoirun Syuaib
Narasumber yang ke-3 adalah Bapak Khoirun
Syuaib atau dikenal dengan Kyai Prostitusi. Beliau menjelaskan bahwa ada 4
faktor yang sangat berpengaruh terhadap lokalisasi, yaitu:
1. Pekerja Seks Komersial (PSK). Menjual harga
diri sudah menjadi mindset para PSK. Sehingga sangat sulit untuk merubah
mindset itu jika tidak melalui proses yang tepat. Meskipun dolly sudah ditutup,
masih ada saja PSK yang melakukan pekerjaan yang tidak halal itu.
2. Mucikari/ Germo. Lagi-lagi karena mindset
mereka yang menganggap bahwa para PSK adalah barang dagangan mereka, sehingga
mereka tetap saja selalu berusaha untuk menjajakan PSK tersebut.
3. RW/RT dan Preman. Ketua RW (Rukun Warga)
pun tidak berani untuk menolak adanya Gang Dolly karena pada siang hari mereka mendapatkan
upeti dan di malam harinya indehoy (pelayanan dari PSK). Begitu juga
para preman. Mereka mendapat imbalan uang di siang hari dan pelayan PSK di
malam hari, hanya demi mengamankan daerah lokalisasi tersebut. Sehingga tidak
ada yang berani melawan.
4. Orang-orang yang bekerja di wilayah
Lokalisasi Gang Dolly tersebut. Salah satu faktor mengapa pemerintah Kota
Surabaya sulit untuk menutup lokalisasi ini karena ada banyak orang yang
menggantungkan hidupnya pada lokalisasi ini. Jika Dolly ditutup, lalu dimana
lagi orang-orang ini mencari nafkah untuk keluarganya.
H. Gatot Subiantoro
Bapak gatot merupakan salah satu dari
banyaknya preman yang ada di Gang Dolly. Dengan dibantu oleh ustadz Khoiron
Syuaib dan diberikan dakwah dengan cara yang tepat maka pak Gatot telah menjadi
orang yang dapat dijadikan teladan.
Bapak gatot lahir di Surabaya pada 9 Januari 1961. Beliau menjabat
sebagai Humas pada IDEAL (Ikatan Dai Eks Area Lokalisasi) Jawa Timur.
Beliau mengatakan bahwa dalam proses
penutupan Gang Dolly mendapat banyak sekali dukungan, terutama para ulama.
Fungsi ulama menurut beliau adalah Konselor, Mediator, Advokator, dan
Pemrakarsa. Konselor maksudnya ulama memberikan pertimbangan dan masukan
kepada masyarakat yang membutuhkan bantuan. Mediator maksudnya ulama
menjadi jembatan antara warga yang membutuhkan bantuan dengan sistem sumber
yang ada. Advocator maksudnya ulama membela kepentingan masyarakat,
melalui kegiatan perwakilan, dan mengurangi konflik. Pemrakarsa
maksudnya ulama mengambil inisiatif dalam tiap kegiatan yang mengarah kepada
usaha kesejahteraan sosial.
Kesan setelah mengikuti Kuliah Lapangan
1. Sangat antusias terhadap masalah
(problematika) yang dipilih yaitu lokalisasi dan prostitusi. Karena masalah ini
memang banyak ditemui di dalam lapisan masyarakat.
2. Termotivasi untuk menjadi seorang
pengusaha, dengan apa yang disampaikan Bapak Owner PT. Berkah Aneka Laut.
Dengan menciptakan lapangan kerja juga dapat mengurangi adanya lokalisasi dan
prostitusi.
3. Sangat senang tentunya karena mendapatkan
wawasan yang masih sangat baru bagi saya sendiri.
4. Terdorong untuk melakukan kebaikan kepada
orang lain, karena seperti yang diucapkan Prof. Moh. Ali Aziz, bahwa dakwah
tidak bisa hanya dilakukan dengan bil abab (banyak omong) saja.
5. Menginspirasi. Karena biasanya hanya
melakukan kuliah dengan teori-teori itu. Namun kali ini di tempat yang berbeda,
suasana berbeda, dan materi yang berbeda pula. Akan lebih melekat pada otak
----Terima Kasih----




No comments:
Post a Comment