Tuesday, 23 April 2019

Dakwah Eks Lokalisasi Dolly


Dakwah Kontemporer pada Area Lokalisasi Dolly

Mungkin nama Dolly sudah tidak asing bagi masyarakat Surabaya, bahkan masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak, nama Dolly sudah mendunia dikarenakan Dolly disebut-sebut merupakan area lokalisasi pelacuran yang terbesar di Asia Tenggara. Namun belum ada catatan perbandingan resmi dengan kompleks lokalisasi di negara lain. Tapi jika hal itu memang benar berarti Dolly telah mengalahkan area lokalisasi di Thailand dan Singapura. Padahal Thailand memiliki banyak  lokalisasi yang kerap di datangi turis, sehingga lokalisasi tersebut menyediakan PSK bagi penyuka sesama jenis.
Namun sebelum membahas lebih jauh mengenai Dolly, alangkah baiknya jika kita mengetahui lebih dulu apa itu Dolly. Dolly atau yang sering disebut Gang Dolly merupakan nama sebuah Kawasan lokalisasi pelacuran yang terletak di daerah Jarak, Pasar Kembang, Kota Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Di Kawasan lokalisasi ini, wanita penghibur “dipajang” didalam ruangan berdinding kaca yang mirip dengan etalase. Salah satu wismanya yang paling sering dikunjungi oleh pelanggan bernama Barbara.
Lokalisasi Dolly ini hampir menyelimuti seluruh jalan kawasan itu. Bahkan Dolly lebih dikenal ketimbang kota Surabaya itu sendiri. Pernah terjadi kontroversi untuk menyebutkan Gang Dolly sebagai salah satu daerah tujuan wisata Surabaya bagi wisatawan mancanegara. Dolly disebut-sebut sebagai lokalisasi terbesar di Asia Tenggara, karena sedikitnya 9.000 lebih pelacur tersedia di kawasan tersebut. Pria hidung belang kalangan atas pun tidak sulit ditemukan di kawasan Dolly. Bahkan banyak Turis bule yang sering mangkal di Bali kerap mengunjungi Surabaya hanya untuk ‘menjajal’ wanita-wanita yang dijajakan di Dolly. 

Sejarah Dolly
Lalu bagaimana sejarah Dolly ini terbentuk? Dan siapa orang yang mengelola Dolly untuk pertama kalinya? Sejarah mencatat, kawasan Dolly rupanya dahulu merupakan tempat pemakaman warga Tionghoa pada zaman penjajahan Belanda. Namun pemakaman ini disulap oleh seorang Noni Belanda bernama Dolly van de mart sebagai tempat prostitusi khusus bagi para tentara negeri kincir angin tersebut. Bahkan keturunan tante Dolly juga disebut-sebut masih ada hingga kini, tetapi sudah tidak meneruskan bisnis prostitusi ini.
Sebagai pencetus komplek lokalisasi di Jalan Jarak, Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya ini maka perempuan dengan sebutan tante Dolly itu kemudian dikenal sebagai tokoh melegenda tentang asal muasal terbentuknya gang lokalisasi prostitusi tersebut.

Dalam beberapa kisah tutur masyarakat Surabaya, awal pendiriannya, tante Dolly hanya menyediakan beberapa gadis untuk menjadi pekerja seks komersial (PSK). Melayani dan memuaskan syahwat para tentara Belanda. Seiring berjalannya waktu, ternyata pelayanan para gadis asuhan tante Dolly tersebut mampu menarik perhatian para tentara untuk datang kembali.
Dalam perkembangannya, gang Dolly semakin dikenal masyarakat luas. Tidak hanya prajurit Belanda saja yang berkunjung, namun warga pribumi dan saudagar yang berdagang di Surabaya juga ikut menikmati layanan PSK. Sehingga kondisi tersebut berpengaruh kepada kuantitas pengunjung dan jumlah PSK yang semakin bertambah.
Dolly juga menjelma menjadi kekuatan dan sandaran hidup bagi penduduk disana. Terdapat lebih dari 800 wisma, kafe dangdut, dan panti pijat plus-plus yang berbaris rapi. Setidaknya setiap malam sekitar 9.000 lebih penjaja cinta, pelacur dibawah umur, germo, dan ahli pijat siap menawarkan layanan kenikmatan kepada para pengunjung.
Tidak hanya itu, Dolly bukan hanya menjadi tumpuan hidup bagi para pekerja seks tetapi juga ribuan pedagang kaki lima, penjaja rokok, tukang parkir, tukang ojek, tukang becak. Semua saling berkait menjalin sebuah simbiosis yang saling menguntungkan.

Sejarah Lain Dolly
Kisah lain tentang Dolly juga pernah ditulis Tjahjo Purnomo dan Ashadi Siregar dalam buku berjudul “Dolly: Membedah Dunia Pelacuran Surabaya, Kasus Kompleks Pelacuran Dolly” yang diterbitkan oleh Grafiti Pers, April 1982. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa dulunya kawasan Dolly merupakan makam Tionghoa, meliputi wilayah Girilaya, berbatasan dengan makam Islam di Putat Gede.
Baru sekitar tahun 1966 daerah itu diserbu pendatang dengan menghancurkan bangunan-bangunan makam. Makam itu tertutup bagi jenazah baru, dan kerangka lama harus dipindah oleh ahli warisnya. Hal ini mengundang orang untuk mendapatkan tanah bekas makam itu, baik dengan cara membongkar bangunan makam, menggali kerangka jenazah, atau cukup meratakannya saja.
Setahun kemudian, tahun 1967, muncul seorang pelacur wanita bernama Dolly Khavit di kawasan makam Tionghoa tersebut. Dia kemudian menikah dengan pelaut Belanda, pendiri rumah pelacuran pertama di jalan yang sekarang bernama Kupang Gunung Timur I. Wisma miliknya antara lain bernama T, Sul, NM, dan MR. Tiga diantara empat wisma itu disewakan pada orang lain. Demikianlah asal muasal nama Lokalisasi Dolly.
Dolly semakin berkembang para era tahun 1968 dan 1969. Wisma-wisma yang didirikan disana semakin banyak. Adapun persebarannya dimulai dari sisi jalan sebelah barat, lalu meluas ke timur hingga mencapai sebagian Jalan Jarak.

Fenomena Gang Dolly
Sebenarnya yang disebut-sebut Gang Dolly bukan gang seperti namanya, tapi sebuah jalan raya Putat Jaya. Secara Administratif masuk wilayah kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Kotamadya Surabaya, ‘Kota Pahlawan’ yang juga menjadi Ibu Kota Provinsi Jawa Timur. Letaknya yang strategis di tengah-tengah Kota Surabaya, menjadikan lokalisasi yang satu ini dianggap sebagai “duri dalam daging” oleh banyak kalangan, ada juga yang mengatakan bahwa Dolly “bukanlah duri dalam daging”. Sehingga pro dan kontra akan keberadaan Gang Dolly seperti tidak terpisahkan dari perjalanan sejarah Kota Surabaya sampai saat ini meskipun sudah di tutup oleh Walikota Surabaya. Itulah fenomena Gang Dolly.
Selain itu, semasa jayanya, Gang Dolly mempunyai beberapa keunikan:
1.    Pada siang hari, ketika kita melewati Jalan Putat Jaya yang dikenal dengan Gang Dolly ini, kita seperti melewati jalan biasanya layaknya jalan-jalan lain di Kota Surabaya. Pada siang hari aktifitas warga sekitar tampak normal seperti warga warga pada umumnya. Tidak ada perbedaan yang mencolok (terkamuflase). Mengapa demikian? Hal itu dapat terjadi karena lokalisasi Gang Dolly ini memang menyatu dan berbaur dengan kehidupan masyarakat. Suasan berbeda akan terlihat ketika sore atau malam hari.
2.    Wanita-wanita pekerja seks di Gang Dolly biasanya ditempatkan atau dipajang dalam sebuah “akuarium”. Sebutan untuk ruangan berkaca terang yang bisa dilihat oleh siapapun yang melewati gang ini. Walaupun tetap ada sebagian yang berdiri dipinggir jalan. Kalau malam akan relatif lebih mudah untuk membedakan mana wanita “pekerja” dan mana yang bukan. Biasanya wanita-wanita itu dapat dibedakan dari gaya dandanan dan pakaian yang dikenakan. Ada juga yang mengatakan bahwa pakaian dan dandanan yang di pakai menentukkan kelas atau levelnya.
3.    Gang Dolly bisa dikatakan lengkap. Karena semua hiburan malam untuk laki-laki hidung belang semua tersedia. Mungkin tidak kalah lengkap dengan lokalisasi Pat Pong milik negaraThailand yang menyediakan pelayanan bagi penyuka sesama jenis. Ada catatan yang menuliskan bahwa pekerja wanita di Gang Dolly masih di bawah umur.
4.    Tidak hanya masalah sosial saja, Gang Dolly juga merupakan komoditas politik khususnya di level internal Kota Surabaya. Pemkot Surabaya pernah mencatat penghasilan lokalisasi Dolly ini mencapai angka Rp. 34 Miliar.
5.    Panjang Gang Dolly hanya mencapai 200 meter saja. Namun siapa sangka, ternyata gang 200 meter tersebut dapat menyimpan puluhan mucikari dan ribuan pelacur  di dalamnya yang berusaha memuaskan hasrat para pelanggannya.
6.    Gang Dolly juga dianggap sebagai sarang penyakit HIV/AIDS.
7.    Karena banyaknya persaingan yang sangat ketat, mengakibatkan para pemilik wisma di Gang Dolly lebih memilih gulung tikar.
8.    Tarif untuk para pekerja seks bermacam-macam. Mulai Rp.80 ribu untuk PSK yang berumur 26-30 tahun. Hingga Rp.150 untuk PSK yang berumur dibawah 26 tahun.

Kehidupan Masyarakat Dolly
Sebagian orang mungkin memandang bahwa kemiskinan adalah masalah sepele. Intinya, seseorang yang miskin karena tidak memiliki uang. Tetapi lihatlah betapa besar dampak yang muncul dari permasalahan kemiskinan. Macam-macam tindakan brutal menghiasi layar televisi, mulai dari pencurian, penjarahan, perampokan, sampai anak gelandangan. Tidak berhenti disitu saja, bahkan mereka ada yang rela menjual harga dirinya demi sesuap nasi dan pemenuhan tanggungjawab terhadap keluarganya.
Seperti yang sedang dibicarakan pada artikel ini, lokalisasi di Gang Dolly menjadi tempat mengais rizki warga Dolly, juga merupakan aktifitas warga yang terpaksa mereka lakukan karena tidak ada jalan lain untuk mendapatkan uang, kecuali dengan cara menjual harga diri mereka sendiri. Bukan hanya menjadi ladang penghasilan bagi masyarakat sekitar, Dolly juga menjadi lading penghasilan bagi masyarakat di luar Kota Surabaya. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya “Pekerja” wanita yang berasal dari Semarang, Kudus, Pati, Purwodadi, Nganjuk, dan Kalimantan. Inilah yang dampak dari kemiskinan yang tidak mendapatkan perhatian dan penanganan langsung dari pemerintah.
Para pelacur yang bekerja di Gang Dolly hanya memikirkan penghasilan yang didapatkan dari pekerjaannya tersebut. Tanpa memikirkan bagaimana proses dan akibat dari perbuatan yang telah dilakukan. Akibat terhadap anak-anak dibawah umur yang seharusnya memiliki masa depan cerah, tetapi dengan terpaksa harus menenggelamkan masa depannya karena harus melayani para lelaki hidung belang. Generasi anak bangsa terkena getahnya. Tidak sedikit anak SD yang merasakan surga dunia dibalik kerlap kerlip lampu Gang Dolly. Hal inilah yang pada akhirnya menggerakan Pemkot Surabaya untuk menutup lokalisasi ini.
Seperti air dalam gelas, jika pecah, air itu akan menyembur ke segala arah. Begitulah kekhawatiran masyarakat setempat jika pemerintah tidak siap dengan dampak penutupan Dolly. Bukan hanya itu, mereka yang telah menggantungkan hidupnya pada lokalisasi ini akan berkeliaran di jalan, tanpa pengawasan, tanpa pembinaan. Itulah mengapa dalam setiap tindakan harus selalu ada solusi.
Ternyata penutupan Gang Dolly bukan hanya tentang persoalan moralitas, tetapi juga menyangkut keberlangsungan hidup masyarakat sekitarnya.
Penutupan Dolly
Rabu, 18 Juni 2014 adalah malam terakhir untuk lokalisasi Gang Dolly. Etalase kaca yang biasanya memajang para pekerja seks berpakaian minim, mejadi kosong dan gelap. Para mucikari sudah tidak lagi sibuk bertransaksi dengan para tamu sambil memencet kalkulator. Sementara warga, menutup rumah dan toko, karena khawatir kericuhan akan terjadi. Suasana malam itu menjadi mencekam.
Sudah tak ada lagi langkah mundur, Gang Dolly, lokalisasi prostitusi terbesar di Asia Tenggara dipastikan ditutup oleh Pemerintah Kota Surabaya pada 18 Juni 2014. Penutupan ini bukan perkara sederhana, karena selama puluhan tahun lokalisasi tersebut berdiri, tidak ada yang mampu menutupnya. Kini, setelah Dolly menjadi lahan penghidupan banyak orang, besar kemungkinan langkah penutupan yang digagas Walikota Surabaya Tri Rismaharini akan mendapat perlawanan warga penduduk kawasan lokalisasi tersebut.
Karena itu, penutupan Dolly juga mendapat perhatian khusus dari aparat kepolisian dan TNI. Sebanyak 1.000 personel gabungan TNI-Polri disiagakan di Islamic Center, yaitu tempat dilangsungkannya deklarasi penutupan lokalisasi tersebut. Tak hanya TNI-Polri, penutupan Dolly saat itu juga tidak luput dari perhatian Komisi Nasional  Hak Asasi Menurut (Komnas HAM). Ketua Komnas HAM Hafid Abbas mengatakan, pihaknya akan memantau langsung penutupan Dolly dengan menerjunkan tim khusus. “Ya jelas, Komnas HAM pasti melakukan pemantauan di lapangan. Besok ada tim berjumlah 4 orang ke Surabaya” Ucap Hafid Abbas saat ditemui di Bandung, Jawa Barat.
Dia mengungkapkan telah meminta Pemkot Surabaya untuk memperhatikan masyarakat yang selama ini menggantungkan hidupnya dari bisnis ini, contohnya dengan memberikan kompensasi sebagai perhatian dari aspek HAM. Hafid Abbas mengatakan “Mereka (penghuni Dolly) harus diperhatikan, terbebas deskriminasi. Mereka berhak dilindungi, jadi harus diperlakukan seperti warga pada umumnya. Intinya aparat terkait harus memikul tanggung jawab bersama-sama setelah Dolly ditutup”.
Langkah seperti itu memang sudah seharusnya diantisipasi. Kementrian Sosial, misalnya, sudah berjanji memberikan bantuan dana sebesar Rp. 5.050.000,- untuk eks pekerja seks komersial (PSK). “Bantuan tersebut diberikan dalam bentuk tabungan, dan akan diberikan saat mereka masing-masing,” ujar Direktur Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial Kemensos Sonny Manalu di Surabaya.
Pada penutupan Dolly, bantuan akan diberikan secara seremonial kepada  eks PSK. Sebanyak 1.449 eks PSK kemudian akan dipulangkan ke daerah asalnya. Bantuan yang diberikan berupa dana Usaha Ekonomi Kreatif sebesar Rp.3 Juta, Rp.1.8 Juta untuk jaminan hidup dengan rincian Rp.20 Ribu per hari selama 90 hari dan Rp.250 Ribu untuk transportasi mereka pulang ke kampung.
Sedangkan bagi warga sekitar Dolly yang selama ini mendapatkan penghasilan dari berbagai kegiatan di Kawasan tersebut akan diberdayakan oleh Pemkot Surabaya, termasuk merefungsi Dolly menjadi lokasi usaha ekonomi produktif. Sementara mucikari dan germo akan mendapat bantuan dari Pemprov Jatim.

Kehidupan Masyarakat Dolly Pasca Ditutup
Setelah lebih dari setahun Gang Dolly ditutup secara resmi, Gang Dolly memang tidak benar-benar mati, meskipun samar-samar aktifitas prostitusi konon masih ada dengan cara yang lebih rapi dan tersamar, terselubung. Indikasi ini, mungkin ada benarnya.  Bila merujuk pada laporan dari beberapa aktifis LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang aktif melakukan pendampingan  bagi masyarakat kawasan Gang Dolly dan Jarak, yang dilansir oleh beberapa media online, sebagian besar para “pekerja” yang mau untuk berpindah haluan adalah “pekerja” yang sudah berumur, sedangkan yang usianya masih muda, rata-rata justru enggan untuk berpindah haluan.
Menjawab kabar samar-samar ini, Pemkot Surabaya tidak tinggal diam. Dengan menggandeng berbagai kalangan seperti Pemerhati Sosial, LSM, Organisasi Kepemudaan, Organisasi Keagamaan, Organisasi Profesinal, Komunitas Seni dan Budaya, dan Praktisi-praktisi Profesional dari berbagai bidang. Terus berusaha memberikan solusi jangka Panjang bagi eksistensi kehidupan masyarakat Ex-Dolly (sebutan bagi masyarakat Gang Dolly pasca lokalisasi ditutup). Ini yang menarik dan mungkin bisa dijadikan referensi solusi oleh daerah lain yang berencana melakukan tindakan yang sama seperti yang dilakukan Pemkot Surabaya, yaitu menutup lokalisasi. Karena seperti yang kita ketahui, bahwa Indonesia memiliki banyak lokalisasi yang terdapat di kota-kota selain Surabaya.
Langkah riil Pemkot Surabaya untuk merubah wajah Gang Dolly antara lain dengan membeli beberapa (sekitar 13) aset property yang dulunya merupakan wisma untuk memajang sekaligus tempat eksekusi para “pekerja” milik mami-mami mucikari Gang Dolly. Property yang sudah dibeli, lantas di rombak untuk dijadikan sebagai wadah bagi pemberdayaan masyarakat Gang Dolly. Wisma “New Barbara”, yang dulu dikenal sebagai wisma paling ramai di Gang Dolly sekarang sudah berganti wajah. Sejak dibeli Pemkot Surabaya setahun silam, bangunan 6 lantai yang dirubah total ini secara perlahan telah beralih fungsi.
Lantai 1 yang dulunya menjadi akuarium atau ruang pajang para “pekerja”, sekarang sudah menjadi tempat kursus komputer, sedangkan ruang diatasnya yang sedang dalam tahap finishing diproyeksikan untuk tempat pelatihan usaha produktif (UKM) bagi masyarakat. Sementara itu, bangunan lainnya yang juga dalam tahap renovasi ada beberapa yang telah dijadikan untuk tepat produksi dan ruang pajang bagi produk kerajinan khas Gang Dolly seperti Batik Jarak Arum, yaitu kerajinan batik khas Gang Dolly yang motifnya khas berupa proses metamorphosis ulat sampai menjadi kupu-kupu yang cantik dan dikombinasikan dengan elemen-elemen daun jarak, sesuai dengan nama daerah Gang Dolly berada, yaitu Jarak. Konon ide dan inspirasi terciptanya motif ini tidak lepas dari perjalanan metamorphosis masyarakat Gang Dolly sendiri, berubah dari negatif menjadi positif. Pemkot Surabaya juga membangun beberapa fasilitas olahraga di Gang Dolly, seperti lapangan futsal, bulutangkis, basket dan volley ball.
Gambaran dan detail proyeksi masa depan Gang Dolly secara lebih jelas, diprakasai oleh sekelompok anak muda Surabaya yang menamakan dengan Gerakan Melukis Harapan (GMH), yaitu sebuah organisasi independent yang fokus menggarap pemberdayaan semua elemen dalam masyarakat Gang Dolly dari anak-anak sampai orang tua melalui berbagai program pendampingan dan pelatihan keterampilan usaha produktif. GMH bertekad akan merubah image wajah Gang Dolly dari daerah wisata malam khusus dewasa (berkonotasi negatif) menjadi  daerah wisata  tematik untuk semua kalangan yang mempunyai ciri khas (berkonotasi positif), khususnya wisata edukasi/sosial/sejarah/ dan kuliner. 
 
Studi Lapangan
Pada hari Sabtu, 13 April 2019, saya dan mahasiswa KPI (Komunikasi Penyiaran Islam) UIN Sunan Ampel Surabaya melakukan studi lapangan di Gang Dolly, tepatnya di Masjid At-Taubah Kupang Gunung Timur VII/41 Surabaya. Masjid at-Taubah merupakan masjid yang penuh dengan perjuangan dalam proses penutupan lokalisasi Gang Dolly. Pada tahun 1987 masjid ini berdiri, namun belum menjadi masjid, melainkan sebuah mushola yang bernama al-Huda. Khutbah pertama diserukan melalu masjid ini pada tanggal 17 Februari 1989. Masjid ini dulunya hanya memiliki 1 lantai, namun sekarang sudah dibangun dan memiliki 3 lantai.
Takmir masjid ini adalah Bapak Petruk. Disebut demikian karena beliau memiliki hidung yang sangat mancung seperti petruk. Selain menjadi takmir masjid, Bapak petruk juga melakukan dakwah. Beliau berdakwah melalui jalan non medis, maksudnya ketika ada orang yang kesurupan, sawanen, beliau lah yang mengobatinya. Sehingga dakwah beliau dilakukan dari kamar wisma satu ke kamar wisma lainnya. Beliau sudah memasuki 53 wisma. Hampir semua wisma sudah pernah beliau masuki guna mengobati orang-orang yang membutuhkan pengobatan non medis. Beliau juga mengatakan bahwa, sudah melalukan dakwah selama 24 tahun, hingga lokalisasi Gang Dolly akhirnya di tutup. Beliau mengatakan bahwa keberhasilan suatu dakwah tidak lah terjadi secara instan. Semua itu melalui berbagai macam proses.
Bapak Petruk alias bapak ‘Adi bin Wahab mengatakan bahwa kunci dibalik sebuah perjuangan adalah keikhlasan. Seperti yang beliau lakukan. Beliau berdakwah selama 24 tahun secara istiqamah dan ikhlas hingga akhirnya lokalisasi Gang Dolly pun dapat di tutup secara Resmi pada 19 Juni 2014.

Dr. H. A. Sunarto AS, MEI
     Narasumber yang kedua yaitu Bapak Sunarto yang merupakan murid pertama dari Prof. Moh. Ali Aziz. Bapak sunato memulai mengajar pada tahun 1983. Beliau mengatakan bahwa dakwah seharusnya tidak menggunakan pedang atau yang dimaksudkan di sini adalah kekerasan. Dakwah seharusnya dilakukan secara lembut tanpa ada paksaan, dan harus menjalani proses yang Panjang pula, bahkan hingga 36 tahun.
Dakwah harusnya dilakukan dengan ajakan yang lembut, bukan memaksa bahkan dengan menggunakan kekerasan seperti yang dilakukan oleh teroris-teroris yang tidak bertanggung jawab.
Beliau juga memiliki harapan untuk mengubah lokalisasi menjadi kota santri. Beliau lahir di tengah-tengah kemungkaran, yaitu lokalisasi pelacuran. Beliau mulai berdakwah pada tahun 1980-an. Mulai dari berdakwah secara individu lalu pada 2002 berdakwah dengan Lembaga, yaitu FORKEMAS (Forum Komunikasi Elemen Masyarakat Surabaya).
Metode dakwah yang beliau gunakan yaitu Persuasif, Integratif, dan Solutif. Pertama yaitu Persuasif, berarti mengajak, seperti yang sudah dijelaskan bahwak dakwah tidak boleh memaksa bahkan menggunakan kekerasan. Berdakwah harus dilakukan dengan lembut sehingga timbul kesadaran dari orang itu sendiri untuk merubah sikapnya. Kedua yaitu Integratif yang berarti menyeluruh. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam berdakwah kita harus melakukannya secara menyeluruh dan total. Kita harus merubah seseorang dari akarnya, yaitu mindset atau cara berpikirnya. Karena jika cara berpikir sudah terbenahi maka akan lebih mudah untuk membenahi cabang2nya. Ketiga yaitu Solutif yang berarti memberikan solusi. Seperti yang dilakukan oleh pemerintah Kota Surabaya untuk menutup Dolly yang telah menjadi lapang penghasilan bagi masyarakat sekitar. Maka pemerintah Kota Surabaya juga harus menyediakan solusi bagi masyarakat yang penghasilannya hilang karena di tutupnya Dolly. Seperti menyediakan LSM salah satunya. Karena pada hakikatnya setiap ada tindakan pasti ada pertanggung jawabannya.
Berdakwah harusnya membina bukan menghina, berdakwah juga harusnya merangkul bukan mendengkul

H. Sunarto Sholahudin


Bapak sunarto ini merupakan owner dari PT. Berkah Aneka Laut, serta merupakan bendahara Masjid Nurul Fatah yang berada di Jln. Perak 319, Surabaya. Bapak sunarto lahir di sebuah desa kecil Menganti Gresik Desa Lampah. Bapak sunarto tidak lahir dari keluarga yang kaya. Maka dari itu, beliau bertekad hijrah ke Surabaya dan sekarang beliau menjadi pengusaha yang sukses, sama seperti yang beliau impikan. Beliau mengatakan dalam setiap langkahnya untuk menuju kesuksesan, selalu ada bantuan dari Allah melalui jalan yang tidak terduga.
Beliau mengatakan bahwa jalan menuju kesuksesan adalah kejujuran. Sama seperti 4 prinsip bisnis yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, yaitu: Shidiq, Fathonah, Tablig, Amanah. Beliau juga menjelaskan bagaimana cara menghadapi kebimbangan ketika akan melangkah. Yaitu dengan percaya, meyakini bahwa semua adalah takdir dari Allah. Kunci kesuksesan juga ada pada doa dan ridho orang tua.
Rejeki yang di berikan Allah melalui PT. Berkah Aneka Laut juga didonasikan untuk usaha penutupan lokalisasi Gang Dolly ini, juga untuk pondok pesantren, masjid, anak yatim, dan kaum dhuafa’. Ternyata dengan donasi itulah PT. Berkah Aneka Laut (BAL) semakin besar dan berkembang. Kini PT. BAL sudah memiliki 50 kapal penangkap ikan dan sedang mendirikan Cold Storage di Probolinggo.
Pesan beliau untuk mahasiswa-mahasiswi yaitu: Pertama, selalu rajin belajar, berdoa, sampai meraih mimpi setinggi-tingginya. Kedua, selalu taati orang tua dan guru-guru dan yakin bahwa Allah akan meridhoi masa depan. Ketiga, jika sudah lulus, jangan menunggu pekerjaan, tetapi “ciptakan pekerjaan”. Inilah dakwah yang sesungguhnya, yaitu mengentas orang lain dari keterpurukan.

KH. Drs. Khoirun Syuaib
Narasumber yang ke-3 adalah Bapak Khoirun Syuaib atau dikenal dengan Kyai Prostitusi. Beliau menjelaskan bahwa ada 4 faktor yang sangat berpengaruh terhadap lokalisasi, yaitu:
1.    Pekerja Seks Komersial (PSK). Menjual harga diri sudah menjadi mindset para PSK. Sehingga sangat sulit untuk merubah mindset itu jika tidak melalui proses yang tepat. Meskipun dolly sudah ditutup, masih ada saja PSK yang melakukan pekerjaan yang tidak halal itu.
2.    Mucikari/ Germo. Lagi-lagi karena mindset mereka yang menganggap bahwa para PSK adalah barang dagangan mereka, sehingga mereka tetap saja selalu berusaha untuk menjajakan PSK tersebut.
3.    RW/RT dan Preman. Ketua RW (Rukun Warga) pun tidak berani untuk menolak adanya Gang Dolly karena pada siang hari mereka mendapatkan upeti dan di malam harinya indehoy (pelayanan dari PSK). Begitu juga para preman. Mereka mendapat imbalan uang di siang hari dan pelayan PSK di malam hari, hanya demi mengamankan daerah lokalisasi tersebut. Sehingga tidak ada yang berani melawan.
4.    Orang-orang yang bekerja di wilayah Lokalisasi Gang Dolly tersebut. Salah satu faktor mengapa pemerintah Kota Surabaya sulit untuk menutup lokalisasi ini karena ada banyak orang yang menggantungkan hidupnya pada lokalisasi ini. Jika Dolly ditutup, lalu dimana lagi orang-orang ini mencari nafkah untuk keluarganya.


H. Gatot Subiantoro
Bapak gatot merupakan salah satu dari banyaknya preman yang ada di Gang Dolly. Dengan dibantu oleh ustadz Khoiron Syuaib dan diberikan dakwah dengan cara yang tepat maka pak Gatot telah menjadi orang yang dapat dijadikan teladan.  Bapak gatot lahir di Surabaya pada 9 Januari 1961. Beliau menjabat sebagai Humas pada IDEAL (Ikatan Dai Eks Area Lokalisasi) Jawa Timur.
Beliau mengatakan bahwa dalam proses penutupan Gang Dolly mendapat banyak sekali dukungan, terutama para ulama. Fungsi ulama menurut beliau adalah Konselor, Mediator, Advokator, dan Pemrakarsa. Konselor maksudnya ulama memberikan pertimbangan dan masukan kepada masyarakat yang membutuhkan bantuan. Mediator maksudnya ulama menjadi jembatan antara warga yang membutuhkan bantuan dengan sistem sumber yang ada. Advocator maksudnya ulama membela kepentingan masyarakat, melalui kegiatan perwakilan, dan mengurangi konflik. Pemrakarsa maksudnya ulama mengambil inisiatif dalam tiap kegiatan yang mengarah kepada usaha kesejahteraan sosial.



Kesan setelah mengikuti Kuliah Lapangan
1.    Sangat antusias terhadap masalah (problematika) yang dipilih yaitu lokalisasi dan prostitusi. Karena masalah ini memang banyak ditemui di dalam lapisan masyarakat.
2.    Termotivasi untuk menjadi seorang pengusaha, dengan apa yang disampaikan Bapak Owner PT. Berkah Aneka Laut. Dengan menciptakan lapangan kerja juga dapat mengurangi adanya lokalisasi dan prostitusi.
3.    Sangat senang tentunya karena mendapatkan wawasan yang masih sangat baru bagi saya sendiri.
4.    Terdorong untuk melakukan kebaikan kepada orang lain, karena seperti yang diucapkan Prof. Moh. Ali Aziz, bahwa dakwah tidak bisa hanya dilakukan dengan bil abab (banyak omong) saja.
5.    Menginspirasi. Karena biasanya hanya melakukan kuliah dengan teori-teori itu. Namun kali ini di tempat yang berbeda, suasana berbeda, dan materi yang berbeda pula. Akan lebih melekat pada otak

----Terima Kasih----










No comments:

Post a Comment